Sabtu, 03 Juli 2021

Kupas Tuntas Fakta Tentang Latah


Latah


Di dalam kehidupan sehari-hari, tentu anda sering menjumpai orang yang latah atau ikut-ikutan. Namun, masih banyak yang belum paham mengapa hal tersebut bisa terjadi. Kondisi ini memang sering dialami oleh masyarakat Indonesia. Untuk itu, kali ini akan dibahas tentang kondisi ini, mulai dari pengertian, penyebab, gejala, hingga cara mengobatinya. Yuk simak sampai selesai!


Pengertian dan Jenis-Jenis

Reaksi kejut ini didefinisikan sebagai respon terkejut yang tak terkendali dan dianggap sebagai sindrom kultur spesifik. Sindrom ini terdiri dari perilaku kompleks pasien dari Melayu dan Indonesia, namun juga terjadi di negara lain seperti Afrika. Kondisi ini umumnya dipicu oleh eksploitasi orang lain dan kasus yang paling sering adalah meniru perkataan.

Kondisi ini kemudian dikelompokkan menjadi tiga sindrom kejut, yaitu gangguan akibat terkejut, hyperekplexia, dan neuropsikiatri. Reaksi kejut yang berlebihan ini bisa terjadi kepada siapa saja, termasuk anak-anak hingga orang dewasa. Orang yang mempunyai kebiasaan latah justru sering digoda dan distimulus dengan kejutan.


Gejala yang Dialami

Gejala yang paling umum terjadi yaitu meniru stimulus yang diberikan, terutama stimulus yang berupa kata-kata. Namun, kondisi ini bisa juga dipicu oleh stimulus berupa sentuhan, visual, akustik, dan stimulus sensitif yang berkaitan dengan orang tersebut. Gejala lain yang sering dijumpai yaitu mengulangi kata yang sudah diucapkan seperti burung beo yang disebut dengan echolalia.

Echopraxia atau meniru gerakan juga merupakan gejala dari kondisi ini. Ada pula gejala yang disebut dengan coprolalia, yaitu reaksi kejut yang mengeluarkan kata-kata sumpah serapah atau kata-kata yang tidak senonoh. Kondisi ini juga dapat ditandai dengan gejala terkejut yang tidak biasa dan berlebihan, seperti melompat, memukul, berteriak, mengayunkan tangan, dan lain-lain.

Namun, ada pula gejala yang ditunjukkan dengan kepatuhan secara otomatis. Misalnya anda memiliki gangguan reaksi kejut ini, kemudian anda diminta untuk duduk, maka secara otomatis anda ikut duduk. Hal ini juga merupakan bentuk gejala yang biasa terjadi pada kondisi ini.


Penyebab dan Faktor Resiko

Menurut sehatQ.com, hingga saat ini belum diketahui secara pasti apa penyebab dari kondisi ini. Namun, para pakar menduga bahwa gangguan reaksi kejut ini dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan personal penderitanya. Pasalnya, penderita gangguan reaksi kejut ini juga tidak akan tahu jika ditanya apa penyebabnya.

Meski begitu, terdapat faktor resiko yang mungkin dapat mempengaruhi kondisi ini. Yang pertama yaitu sindrom syok neuropsikiatrik, kemudian budaya tertentu yang bisa mempengaruhi seperti budaya Melayu dan Indonesia. yang ketiga dan keempat yaitu faktor genetik gen SLC6A5, GPHN, GLRB, GLRA1, dan ARHGEF9 serta jenis kelain perempuan.


Cara Mengobati

Gangguan reaksi kejut ini tidak termasuk kondisi yang membahayakan,  sehingga tidak membutuhkan pengobatan medis. Namun, sehatQ.com menyarankan beberapa hal berikut jika kondisi ini mengganggu aktivitas. Cara yang pertama dengan menghimbau orang-orang di sekitar anda untuk tidak menggoda atau memberikan stimulus.

Sebab, stimulus dari orang sekitar merupakan pemicu gejala yang paling sering terjadi. Cara yang kedua dengan mengendalikan stres yang dapat memicu munculnya gejala. Jika gangguan ini sudah sangat mengganggu, anda bisa memberikan obat anti cemas dan anti kejang, seperti fenitoin, fenobarbital, dan diazepam.


Mengalami reaksi kejut yang tidak normal bisa menjadi sesuatu yang cukup mengganggu. Terlebih jika sering dijadikan guyonan oleh orang-orang sekitar. Meski kondisi ini tidak termasuk kondisi yang berbahaya, anda bisa melakukan cara penyembuhan untuk menekan gejala yang muncul dan dapat mengganggu aktivitas.

Web Developer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar